Sejarah Desa
Sejarah Desa Pa' Matung, tidak terlepas dari adat istiadat Dayak Lun Dayeh yang melekat sejak dahulu, yang pada umumnya tinggal dirumah panjang (Ruma' Kadang). Rumah panjang tersebut memang dirancangkan sedemikian rupa dengan tiang-tiangnya dari kayu bulat yang berdiri kokoh đan ketinggiannya dari permukaan tanah kurang lebih 3 sampai 4 Meter. Rumah yang mereka dirikan harus memperhitungkan faktor ketahanannya, dengan menghuni rumah yang tiangnya tinggi, kehidupan mereka semakin aman dan nyaman dari serangan musuh dan binatang buas. Sejarah Desa Pa' Matung, diambil dari nama sebuah sungai yang terbentang disebelah utara sungai Pa' Lutut dan sebelah selatan Desa Liang Biadung. “PA” artinya sungai dan “MATUNG” artinya Sumber Air Garam (Atung Tudcu’) mulanya masyarakat yang tinggal di sekitar sungai dulunya yang bernama kampung kiyeb Matung dan daerah ini cukup baik dan subur tempat masyarakat bercocok tanam dan berburu binatang buruan, konon cerita (ada salah satu masyarakat yang berburu dikawasan daerah tersebut dan setelah sekian jauh dia berjalan tanpa mendapatkan binatang yang diburunya dan setelah haus dia minum air sungai tesebut dan rasa air nya asin “Abpa' Tudcu'” dan dibuatlah sebuah atung tudcu’). Berawal dari perjalanan seorang Hamba Tuhan (Penginjil) yang berasal dari Kampung Long Sepayang dan menikah dengan seorang anak gadis masyarakat setempat, setelah Pensiun dari Penginjilan dan menetap disuatu kawasan Pa' Matung dan dari pihak marga atau keluarga istrinya maka beberapa keluarga lain ikut pindah ke kampung Pa' Matung mengingat luas wilayah dan potensi lingkungan alam yang baik untuk usaha pertanian, persawahan, berladang, berkebun dan padang ternak yang sangat memungkinkan.